Petualangan Menyenangkan di Ujung Timur Pulau Jawa
“Ijen, yuk?”
“Cek jadwal kereta ke Banyuwangi coba.”
“Ada
nih, Wijaya Kusuma sampai sana masih pagi.”
“Januari long weekend, nih.”
“Emang ke Ijen bagusnya bulan apa?”
Search google
“Paling kita bisanya setelah lebaran.”
“Aku sih yes.”
“Gas.”
“Ayo, Ta, bikin passport.”
“Januari mumpung long weekend.”
“Bangkok, yuk!”
“Singapore, Malaysia.”
“Hmm masih penuh antrian imigrasinya,
tapi kayanya aku belum bisa kalau liburan ke luar negeri deh.” Jawabku
apa adanya pada percakapan malam itu setelah berburu kuliner Mambo bersama Amel
dan Lintang.
….
7
Januari 2025
Krisanty
Amelia menambahkan Anda ke grup BWI
Mataku membelalak karena sebuah
notifikasi WA. Emang boleh secepat iniii?
Rencana ke Banyuwangi jadinya di long weekend Januari ini tanggal 26-28 dengan 5 anggota, yaitu aku, Amel, Lintang, Mba Esti, dan Mba Ela.
Setelah beribu debat panjang,
nggak debat juga sih, lebay, diputuskan: day 1 (Senin) ke Kawah Wurung,
Kalipait River, dan Djawatan Forest, day 2 (Kawah Ijen).
Semua ikut sampai day 2 kecuali Mba Esti dan Mba Ella. Mereka day 2 mau lanjut trip ke Malang. Oh iya kita ikut private trip supaya lebih nyaman.
Homestay kita cari sendiri yang akhirnya dapat di Diana's
Homestay, deket dari stasiunnya dan lebih murah. Sebenernya awalnya mau di Omah
Telu Homestay, tapi karena kebanjiran di H-2, akhirnya dapat refund dan cari
homestay lain dengan harga Rp1.080.000/2 malam.
Minggu, 26 Januari 2025
Aku, Mba Esti, Mba Ela, Lintang (Amel naik dari Solo) berangkat
dari Jogja ke Banyuwangi naik Wijaya Kusuma jam 18.40. Perjalanan menempuh
waktu kurang lebih 11 jam. Aku isi dengan main HP, nonton netflix, makan bekal
makanan dari mamaku, dan tidur nyenyak sampai kereta berbalik arah di Surabaya juga nggak
nyadar (jalan mundur). Tiket kereta ke Stasiun Banyuwangi Kota seharga Rp377.500
(ekonomi premium).
| pap selfie dari St. Yogyakarta |
Senin, 27 Januari 2025
Kami tiba di St.Bwi Kota pukul 5.45 pagi. Lalu diputuskan apakah
langsung beli sarapan atau ke homestay aja lalu gofood. Karena sudah pada capek
dan pengen bersih-bersih, kami pesan gocar ke homestay yang jaraknya 4km an.
Homestaynya terletak di halaman belakang rumah pemiliknya dengan total 4
bangunan. Kami menempati nomor 2 dengan fasilitas: teras, bed besar, toilet,
AC, wifi, ditambah extra bed besar, extra charge 1 pack (seharusnya untuk 4
orang), dan biaya early check in.
| selamat pagi, Banyuwangi! |
Untuk menu sarapan, kami pesan di Nasi
Tempong & Pecel Rawon “Ganas Cita Rasa”. Aku pesen nasi rawon seharga
20ribuan, komplit dapat nasi, telur rebus utuh, dan rawon dengan 4-5 potong
daging, lumayan lama jadinya karena saat datang, semua makanannya masih panas. Lalu
kami bersiap-siap sembari menunggu jemputan tripnya.
Day 1 with Santarra Life
Kawah Wurung
Kami dijemput pukul 9.30 oleh pihak trip (Santarra Life) memakai trooper berwarna kuning dengan 1 driver dan 1 guide beserta fotografer bernama Mas Reza dan Mas Oky yang sepertinya umur mereka lebih muda dari kita haha.
| ready for trip |
Perjalanan ke Kawah Wurung kurang lebih 1,5 jam. Jalan yang berkelok-kelok seperti di pegunungan dengan kanan kiri hutan dan kebun serta semilir angin yang masuk jendela membuat kami agak pusing dan mengantuk.
Kekhawatiran kami jika hujan turun rupanya terjadi. Masih dalam perjalanan, perlahan gerimis berubah menjadi deras yang mengganggu jarak pandang. Atas saran Mas Oky, kami berhenti dulu di sebuah basecamp. Karena tempat itu adalah sebuah basecamp pendakian Ijen, banyak orang memakai baju pendakian yang kontras dengan kedatangan kami yang memakai baju santai. Jangan ditanya dingin atau tidak. Kami memesan wedang jahe (bukan jahe instan saset) yang sudah termasuk fasilitas trip. Kurang lebih 30 menit menunggu hujan reda, perjalanan berlanjut lagi. Katanya sih, udah deket ke Kawah Wurung, sekitar 20 menit lagi.
Pukul 12.00 tibalah kami di tujuan. Kawah Wurung merupakan kawah yang tidak jadi terbentuk yang dikelilingi bukit savana hijau dan berada di Kabupaten Bondowoso. Trooper memulai offroadnya melewati jalanan sempit, ilalang di kanan kiri, dan tanah yang basah. Beberapa kali berpapasan dengan mobil lain, kadang bergantian harus menepi untuk memberi jalan ke mobil lain.
hai, sappy
Sejauh mata memandang kala berada di savananya adalah
hamparan rumput hijau dan bukit yang mengelilinginya. Beberapa ekor sapi
memakan rumput-rumput. Entah itu sapi liar atau diternakkan dan dilepas ke
alam, aku lupa tanya sih. Sambil
duduk di atas trooper dengan cuaca cerah, angin sepoi-sepoi, dan udara segar
melingkupi hatiku. Enak banget buat bengong.
Ada sesi foto-foto sendiri dan bersama. Berlari-larian juga di padang rumput, tapi harus hati-hati karena ada “ranjau”.
Kalipait River
Perjalanan berlanjut ke Sungai Kalipait, kurang lebih 30 menit dari Kawah Wurung. Sungai Kalipait masih berada di Kabupaten Bondowoso, samping jalan menuju Kawah Ijen.
Sungai ini terdapat air terjun kecil dan batu-batu besar yang airnya berwarna hijau karena sumbernya dari danau Kawah Ijen, namun suhu airnya dingin. Banyak wisatawan yang berkunjung juga. Untung aku pakai sepatu trail run jadi nggak licin saat harus melintasi bebatuan.
Hanya 30 menit kami di Sungai Kalipait karena agenda selanjutnya adalah makan siang dan solat lalu ke Djawatan Forest. Sebelum lanjut beli cilok kuah dulu hehe.
Makan Siang di Sego Tempong Mbak Har
Untuk makan siang sebenarnya diberi pilihan mau makan nasi tempong, rawon, atau pecel rawon. Sebagai cewek bingung, akhirnya Mas Oky menyarankan untuk makan di Nasi Tempong Mbak Har, lalu sorenya makan pecel rawon. Tentu kami menyetujuinya. Enaknya pakai private/open trip, nggak bingung lagi nentuin mau makan di mana.
Nasi Tempong khas Banyuwangi disajikan dengan nasi, sambal, sambal tahu, lauk pauk, dan lalapan sayur rebus. Tempong dalam Bahasa Osing berarti tampar, maksudnya adalah sambal yang pedas. Aku dapat lauk ayam goreng dan memang sambalnya pedas banget, dan yang penting rasanya enak. Minumnya es teh manis. Menurutku, rasa tehnya ada aroma dan rasa bunga mawar dan sedikit melati. Not bad lah.
ayam goreng, sambal, lalapan,tempe goreng, sambel tahu, sambel ikan asin? Sego Tempong Mbak Har
Djawatan Forest
Jarak dari Nasi Tempong Mbak Har ke Djawatan Forest hanya sekitar 1 km, dengan waktu tempuh 5 menit menggunakan trooper. Berbeda dengan 2 tempat wisata sebelumnya, Djawatan Forest terletak di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya Desa Benculuk. Hutan ini berupa pohon-pohon trembesi raksasa. Sepertinya cocok untuk latar film zaman dulu wkwk. Saat berada di dalam hutan, suasananya sejuk dan sedikit magis karena kami tiba di sana saat sudah sore dan hanya ada beberapa pengunjung. Tentu tidak lupa untuk berfoto-foto.
Rumah Makan Pecel Ayu
Djawatan Forest menjadi tujuan terakhir wisata kami di hari pertama. Sebelum kembali ke penginapan, kami makan malam (masih fasilitas trip) di Rumah Makan Pecel Ayu. Kami memesan menu khasnya, yaitu pecel rawon. Dalam piringku tersaji nasi, kuah rawon, bumbu pecel beserta bayam + toge rebus dan peyek kacang, tempe goreng, bakwan udang, kulit tepung (?), dan paru. Rasanya menurutku sangat tidak masuk di lidahku wkwkwk. Lain halnya seperti soto khas sokaraja yang juga memakai bumbu kacang, pecel rawon ini dua-duanya terlalu kuat rasanya. Pecel yang manis dan rawon yang gurih asin sangat berempah, membuat kombinasi yang masih terasa aneh di lidahku. Ditambah paru yang aku tidak terlalu suka, doyan sih tapi nggak bisa makan banyak. Akhirnya aku hanya makan lauk-lauknya saja dan minum air. Huhu sedih masih nyisain makanan.
sorry, pecel rawon, you aren't my taste :(
Nice trip with Santarra! Dokumentasinya bagus-bagus! Charge per orang untuk private trip di hari pertama ini totalnya Rp575.000. Kami kembali ke
homestay pukul 7 malam untuk istirahat dan bersiap melanjutkan trip ke Kawah Ijen
yang akan dijemput pukul 00.30.
Day 2
Kawah Ijen with Exoticijen (Private Trip)
Kali ini hanya Aku, Amel, dan Lintang yang berangkat. Sempat tidur 2-3 jam untuk memulihkan energi. Alarm HP sudah ku setting, namun yang bangun malah Amel dan Lintang wkwk. Saat tidur, kami sudah memakai baju trekking, jadi biar tinggal berangkat. Lima menit sebelum berangkat, aku kebelet pup huhu. Bisa sih, cuma belum tuntas aja wkwk.
Kami dijemput pakai mobil avanza menuju pos pendakian Paltuding. Perjalanan kurang lebih 1 jam 15 menit. Sepanjang jalan kami tertidur, hanya saja aku kurang nyenyak untuk tidur. Pukul 01.15 kami tiba. Sudah banyak sekali rombongan yang mau naik juga. Fasilitas trip termasuk surat sehat, headlamp, dan masker gas. Kami juga menyewa trekking pole untuk membantu pendakian. Local guide sekaligus fotografernya bernama Mas Afro, iya memang kribo wkwk (daripada guide di Santarra, guide ini juga terlihat jauh lebih muda hahaha). Tapi dia mengaku kalau seumuran dengan kita gara-gara melihat logo instansi di jaket yang aku dan Amel kenakan.
Disclaimer, saat masih di perjalanan hari 1 dengan Mas Oky-setelah aku bilang kalau malamnya mau lanjut ke Ijen, dia bilang kalau Blue Fire di Ijen untuk bulan ini tidak ada. Bulan terbaik untuk ke Ijen sebenarnya ada di Juni-Agustus. Aku sih tidak masalah, yang penting cuaca cerah saat pendakian. Siapa tau bisa main lagi ke Banyuwangi untuk melihat Blue Fire.
Setelah briefing singkat dan sudah tau kalau tidak akan bertemu Blue Fire, kami memulai pendakian memasuki Taman Wisata Alam Kawah Ijen pukul 2.30. Rame banget, tapi nggak seramai hari sebelumnya, infonya. Ada banyak (ojek) gerobak troli yang ditawarkan penduduk apabila ingin naik gerobak aja tanpa capek mendaki. Tapi tarifnya muahall. Naik turun 1 jutaan.
Karena masih petang, tidak banyak pemandangan yang aku lihat, hanya cahaya dari senter. Menuju puncaknya kami melewati 6 pos dengan jarak 3,5 km. Mulai gapura masuk sampai pos 3 jalan masih landai dan suhu tubuh malah panas dan berkeringat, jadi jaketnya aku tali di pinggang saja. Memasuki pos 3 setelahnya, jalan mulai menanjak tajam dan angin bertiup kencang, dingin. Lebar jalan bervariasi, mulai 2-4 meter dengan jurang di kanan dan kiri.
Berjalan 2,5 jam diselingi istirahat, akhirnya kami sampai di puncak, sunrise point. Aaahh indah banget, MasyaAllah. Kawahnya terlihat jelas walau ada bagian yang tertutup asap belerang. Beberapa pendaki terlihat turun ke kawah.
Biru, hijau, dingin, memanjakan mataku.
aaa aku sampai sini Gunung Raung
Aku dan Amel solat di ketinggian 2.386 mdpl dengan angin kencang dan tanah yang tidak rata.
| ada bukit juga |
Lanjut ke spot Hutan Mati yang dipenuhi tanaman cantigi yang cantik. Kabarnya Hutan Mati ini adalah bekas area hutan cemara yang terbakar akibat kebakaran dan gas beracun dari aktivitas vulkanik ijen yang terakumulasi. Di sisi lain kawahnya, ada bukit yang tinggi (lupa nggak nanya namanya).
| di Hutan Mati |
Setelah puas mengabadikan momen, kami kembali turun sekitar pukul 7.30, kembali melalui jalan yang sebelumnya masih terlihat gelap. Melihat beberapa penambang mengumpulkan belerang. Aku tidak terlalu mencium bau belerang, hanya sekilas saja.
Dari awal yang tidak berekspektasi tinggi untuk melihat Blue Fire, malah diberi nikmat cuaca yang cerah untuk melihat indahnya Ijen.
1 jam 15 menit total waktu untuk turun dari puncak ke basecamp dan dilanjutkan makan indomie karena sudah lapar wkwk.
| byee Ijen! |
Kembali ke penginapan, karena capek semua, kami tertidur di perjalanan, aku lagi-lagi susah tidur pulas. Sampai di penginapan pukul 10.30 dan berpamitan dengan tripnya. Thanks exoticijen!
Makan Seafood di Ikan Bakar Pondok Pelangi
Saatnya istirahat lagi di kamar. Jam 13.00 akan datang motor yang kami sewa untuk jalan-jalan mencari makan atau ke Pantai.
Siang sampai sore hujan turun yang membuat kami kebingungan apakah jadi keluar untuk motoran atau tidak, mengingat Amel malamnya akan langsung pulang ke Solo.
Syukurnya, pukul 16.40an hujan berhenti. Kami berencana makan seafood di Ikan Bakar Pondok Pelangi. Kalau menurut maps, arah perjalanannya tidak melewati Kawasan Pantai, tapi karena beloknya terlewati jadi melewati dermaga dan bisa melihat laut.
Saat kami datang untuk makan, belum banyak pengunjung yang datang, sehingga makanan tidak terlalu lama disajikan. Saat sudah ramai, kami menambah pesanan minum yang ternyata lama sekali disajikan. Tak apalah. Lagian, rasanya enak, harganya pas. Setelah makan, beli oleh-oleh di Osing Deles. Aku beli Bagiak, Keripik Tempong, dan Keripik Cumi. Bingung beli apa lagi soalnya kebanyakan cuma keripik-keripik atau kacang-kacang yang di Jogja juga banyak yang jual.
Pulang bentar ke homestay lanjut lagi mengantar Amel ke stasiun naik motor.
Day 3
Pantai Ancol Plengsengan dan Sego Cawuk Ibu Sri
Kali ini tinggal aku dan Lintang yang belum pulang. Agenda pagi jam 5 adalah berburu sunrise di Pantai Ancol Plengsengan, jaraknya kurang lebih 5 km. Kami duduk-duduk menikmati matahari terbit, kapal dan perahu yang masih berlayar, dan bermain air.
Karena kita lapar, Lintang merekomendasikan sarapan di Sego Cawuk Ibu Sri. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai atau penginapan. Sistem antreannya pakai nomor, keren kan wkwk. Soalnya ramai dikunjungi wisatawan. Tempatnya kecil, kalau mau makan di sana tempatnya terbatas, jadi kami membungkusnya saja. 1 porsi seharga 10 ribu dan sate usus 2 ribu rupiah.
pagi-pagi dah antre live action penjual ngulek sambel
Rasanya enak banget, ada pedes asem dari sambelnya, dan gurih dari santan dan parutan kelapa. Porsinya pas buat sarapan. Sejauh ini, makanan ini menjadi favoritku wkwkwk.
kuah pindang, cocor tahu, daun semanggi, pepes tuna, telur pindang, gecok teri,
kuah kelapa, pecel, sambel sereh, kerupuk, sate usus
Jam 11 saatnya kami harus meninggalkan Banyuwangi. Kembali naik Wijaya Kusuma tujuan Yogyakarta dengan waktu yang sama, 11 jam, fyi aku dapet harga tiket Rp645.000 karena kelas ekonominya udah habis wkwk.
Masih belum puas untuk eksplor di Banyuwangi dan sekitarnya. Tahun depan kalau ada kesempatan buat MAIN ke Banyuwangi lagi, kayanya jadi pertimbangan deh (pakai private trip juga). Sama suamiku bisa kali, #eh. Aamiin! Belajar renang juga biar bisa snorkeling wkwk.
Nice and fun trip, Alhamdulillah! Thank you Banyuwangi!