Jemari Menari

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Petualangan Menyenangkan di Ujung Timur Pulau Jawa

“Ijen, yuk?”

“Cek jadwal kereta ke Banyuwangi coba.”

“Ada nih, Wijaya Kusuma sampai sana masih pagi.”

“Januari long weekend, nih.”

“Emang ke Ijen bagusnya bulan apa?”

Search google

“Paling kita bisanya setelah lebaran.”

“Aku sih yes.”

“Gas.”

“Ayo, Ta, bikin passport.”

“Januari mumpung long weekend.”

“Bangkok, yuk!”

“Singapore, Malaysia.”

“Hmm masih penuh antrian imigrasinya, tapi kayanya aku belum bisa kalau liburan ke luar negeri deh.” Jawabku apa adanya pada percakapan malam itu setelah berburu kuliner Mambo bersama Amel dan Lintang.

….

7 Januari 2025

Krisanty Amelia menambahkan Anda ke grup BWI

Mataku membelalak karena sebuah notifikasi WA. Emang boleh secepat iniii?

Rencana ke Banyuwangi jadinya di long weekend Januari ini tanggal 26-28 dengan 5 anggota, yaitu aku, Amel, Lintang, Mba Esti, dan Mba Ela.

Setelah beribu debat panjang, nggak debat juga sih, lebay, diputuskan: day 1 (Senin) ke Kawah Wurung, Kalipait River, dan Djawatan Forest, day 2 (Kawah Ijen).

Semua ikut sampai day 2 kecuali Mba Esti dan Mba Ella. Mereka day 2 mau lanjut trip ke Malang. Oh iya kita ikut private trip supaya lebih nyaman.

Homestay kita cari sendiri yang akhirnya dapat di Diana's Homestay, deket dari stasiunnya dan lebih murah. Sebenernya awalnya mau di Omah Telu Homestay, tapi karena kebanjiran di H-2, akhirnya dapat refund dan cari homestay lain dengan harga Rp1.080.000/2 malam.

Minggu, 26 Januari 2025

Aku, Mba Esti, Mba Ela, Lintang (Amel naik dari Solo) berangkat dari Jogja ke Banyuwangi naik Wijaya Kusuma jam 18.40. Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 11 jam. Aku isi dengan main HP, nonton netflix, makan bekal makanan dari mamaku, dan tidur nyenyak sampai kereta berbalik arah di Surabaya juga nggak nyadar (jalan mundur). Tiket kereta ke Stasiun Banyuwangi Kota seharga Rp377.500 (ekonomi premium).

pap selfie dari St. Yogyakarta

Senin, 27 Januari 2025

Kami tiba di St.Bwi Kota pukul 5.45 pagi. Lalu diputuskan apakah langsung beli sarapan atau ke homestay aja lalu gofood. Karena sudah pada capek dan pengen bersih-bersih, kami pesan gocar ke homestay yang jaraknya 4km an. Homestaynya terletak di halaman belakang rumah pemiliknya dengan total 4 bangunan. Kami menempati nomor 2 dengan fasilitas: teras, bed besar, toilet, AC, wifi, ditambah extra bed besar, extra charge 1 pack (seharusnya untuk 4 orang), dan biaya early check in.

selamat pagi, Banyuwangi!

Untuk menu sarapan, kami pesan di Nasi Tempong & Pecel Rawon “Ganas Cita Rasa”. Aku pesen nasi rawon seharga 20ribuan, komplit dapat nasi, telur rebus utuh, dan rawon dengan 4-5 potong daging, lumayan lama jadinya karena saat datang, semua makanannya masih panas. Lalu kami bersiap-siap sembari menunggu jemputan tripnya.

Day 1 with Santarra Life

Kawah Wurung

Kami dijemput pukul 9.30 oleh pihak trip (Santarra Life) memakai trooper berwarna kuning dengan 1 driver dan 1 guide beserta fotografer bernama Mas Reza dan Mas Oky yang sepertinya umur mereka lebih muda dari kita haha.

ready for trip

Perjalanan ke Kawah Wurung kurang lebih 1,5 jam. Jalan yang berkelok-kelok seperti di pegunungan dengan kanan kiri hutan dan kebun serta semilir angin yang masuk jendela membuat kami agak pusing dan mengantuk.


Kekhawatiran kami jika hujan turun rupanya terjadi. Masih dalam perjalanan, perlahan gerimis berubah menjadi deras yang mengganggu jarak pandang. Atas saran Mas Oky, kami berhenti dulu di sebuah basecamp. Karena tempat itu adalah sebuah basecamp pendakian Ijen, banyak orang memakai baju pendakian yang kontras dengan kedatangan kami yang memakai baju santai. Jangan ditanya dingin atau tidak. Kami memesan wedang jahe (bukan jahe instan saset) yang sudah termasuk fasilitas trip. Kurang lebih 30 menit menunggu hujan reda, perjalanan berlanjut lagi. Katanya sih, udah deket ke Kawah Wurung, sekitar 20 menit lagi.

Pukul 12.00 tibalah kami di tujuan. Kawah Wurung merupakan kawah yang tidak jadi terbentuk yang dikelilingi bukit savana hijau dan berada di Kabupaten Bondowoso. Trooper memulai offroadnya melewati jalanan sempit, ilalang di kanan kiri, dan tanah yang basah. Beberapa kali berpapasan dengan mobil lain, kadang bergantian harus menepi untuk memberi jalan ke mobil lain.

hai, sappy

Sejauh mata memandang kala berada di savananya adalah hamparan rumput hijau dan bukit yang mengelilinginya. Beberapa ekor sapi memakan rumput-rumput. Entah itu sapi liar atau diternakkan dan dilepas ke alam, aku lupa tanya sih. Sambil duduk di atas trooper dengan cuaca cerah, angin sepoi-sepoi, dan udara segar melingkupi hatiku. Enak banget buat bengong.

aku kecil, tapi aku ada

Ada sesi foto-foto sendiri dan bersama. Berlari-larian juga di padang rumput, tapi harus hati-hati karena ada “ranjau”.

berlima

enjoy!

ready, go!

Kalipait River

Perjalanan berlanjut ke Sungai Kalipait, kurang lebih 30 menit dari Kawah Wurung. Sungai Kalipait masih berada di Kabupaten Bondowoso, samping jalan menuju Kawah Ijen.

Sungai ini terdapat air terjun kecil dan batu-batu besar yang airnya berwarna hijau karena sumbernya dari danau Kawah Ijen, namun suhu airnya dingin. Banyak wisatawan yang berkunjung juga. Untung aku pakai sepatu trail run jadi nggak licin saat harus melintasi bebatuan.


Hanya 30 menit kami di Sungai Kalipait karena agenda selanjutnya adalah makan siang dan solat lalu ke Djawatan Forest. Sebelum lanjut beli cilok kuah dulu hehe.

Makan Siang di Sego Tempong Mbak Har

Untuk makan siang sebenarnya diberi pilihan mau makan nasi tempong, rawon, atau pecel rawon. Sebagai cewek bingung, akhirnya Mas Oky menyarankan untuk makan di Nasi Tempong Mbak Har, lalu sorenya makan pecel rawon. Tentu kami menyetujuinya. Enaknya pakai private/open trip, nggak bingung lagi nentuin mau makan di mana.

Nasi Tempong khas Banyuwangi disajikan dengan nasi, sambal, sambal tahu, lauk pauk, dan lalapan sayur rebus. Tempong dalam Bahasa Osing berarti tampar, maksudnya adalah sambal yang pedas. Aku dapat lauk ayam goreng dan memang sambalnya pedas banget, dan yang penting rasanya enak. Minumnya es teh manis. Menurutku, rasa tehnya ada aroma dan rasa bunga mawar dan sedikit melati. Not bad lah.

ayam goreng, sambal, lalapan,tempe goreng, sambel tahu, sambel ikan asin?

Sego Tempong Mbak Har

Djawatan Forest

Jarak dari Nasi Tempong Mbak Har ke Djawatan Forest hanya sekitar 1 km, dengan waktu tempuh 5 menit menggunakan trooper. Berbeda dengan 2 tempat wisata sebelumnya, Djawatan Forest terletak di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya Desa Benculuk. Hutan ini berupa pohon-pohon trembesi raksasa. Sepertinya cocok untuk latar film zaman dulu wkwk. Saat berada di dalam hutan, suasananya sejuk dan sedikit magis karena kami tiba di sana saat sudah sore dan hanya ada beberapa pengunjung. Tentu tidak lupa untuk berfoto-foto.



Rumah Makan Pecel Ayu

Djawatan Forest menjadi tujuan terakhir wisata kami di hari pertama. Sebelum kembali ke penginapan, kami makan malam (masih fasilitas trip) di Rumah Makan Pecel Ayu. Kami memesan menu khasnya, yaitu pecel rawon. Dalam piringku tersaji nasi, kuah rawon, bumbu pecel beserta bayam + toge rebus dan peyek kacang, tempe goreng, bakwan udang, kulit tepung (?), dan paru. Rasanya menurutku sangat tidak masuk di lidahku wkwkwk. Lain halnya seperti soto khas sokaraja yang juga memakai bumbu kacang, pecel rawon ini dua-duanya terlalu kuat rasanya. Pecel yang manis dan rawon yang gurih asin sangat berempah, membuat kombinasi yang masih terasa aneh di lidahku. Ditambah paru yang aku tidak terlalu suka, doyan sih tapi nggak bisa makan banyak. Akhirnya aku hanya makan lauk-lauknya saja dan minum air. Huhu sedih masih nyisain makanan.

sorry, pecel rawon, you aren't my taste :(

Nice trip with Santarra! Dokumentasinya bagus-bagus! Charge per orang untuk private trip di hari pertama ini totalnya Rp575.000. Kami kembali ke homestay pukul 7 malam untuk istirahat dan bersiap melanjutkan trip ke Kawah Ijen yang akan dijemput pukul 00.30.

Day 2

Kawah Ijen with Exoticijen (Private Trip)

Kali ini hanya Aku, Amel, dan Lintang yang berangkat. Sempat tidur 2-3 jam untuk memulihkan energi. Alarm HP sudah ku setting, namun yang bangun malah Amel dan Lintang wkwk. Saat tidur, kami sudah memakai baju trekking, jadi biar tinggal berangkat. Lima menit sebelum berangkat, aku kebelet pup huhu. Bisa sih, cuma belum tuntas aja wkwk.

Kami dijemput pakai mobil avanza menuju pos pendakian Paltuding. Perjalanan kurang lebih 1 jam 15 menit. Sepanjang jalan kami tertidur, hanya saja aku kurang nyenyak untuk tidur. Pukul 01.15 kami tiba. Sudah banyak sekali rombongan yang mau naik juga. Fasilitas trip termasuk surat sehat, headlamp, dan masker gas. Kami juga menyewa trekking pole untuk membantu pendakian. Local guide sekaligus fotografernya bernama Mas Afro, iya memang kribo wkwk (daripada guide di Santarra, guide ini juga terlihat jauh lebih muda hahaha). Tapi dia mengaku kalau seumuran dengan kita gara-gara melihat logo instansi di jaket yang aku dan Amel kenakan.

selamat dini hari

Disclaimer, saat masih di perjalanan hari 1 dengan Mas Oky-setelah aku bilang kalau malamnya mau lanjut ke Ijen, dia bilang kalau Blue Fire di Ijen untuk bulan ini tidak ada. Bulan terbaik untuk ke Ijen sebenarnya ada di Juni-Agustus. Aku sih tidak masalah, yang penting cuaca cerah saat pendakian. Siapa tau bisa main lagi ke Banyuwangi untuk melihat Blue Fire.

Setelah briefing singkat dan sudah tau kalau tidak akan bertemu Blue Fire, kami memulai pendakian memasuki Taman Wisata Alam Kawah Ijen pukul 2.30. Rame banget, tapi nggak seramai hari sebelumnya, infonya. Ada banyak (ojek) gerobak troli yang ditawarkan penduduk apabila ingin naik gerobak aja tanpa capek mendaki. Tapi tarifnya muahall. Naik turun 1 jutaan.

banyak manusia

Karena masih petang, tidak banyak pemandangan yang aku lihat, hanya cahaya dari senter. Menuju puncaknya kami melewati 6 pos dengan jarak 3,5 km. Mulai gapura masuk sampai pos 3 jalan masih landai dan suhu tubuh malah panas dan berkeringat, jadi jaketnya aku tali di pinggang saja. Memasuki pos 3 setelahnya, jalan mulai menanjak tajam dan angin bertiup kencang, dingin. Lebar jalan bervariasi, mulai 2-4 meter dengan jurang di kanan dan kiri.

lupa pos berapa

Berjalan 2,5 jam diselingi istirahat, akhirnya kami sampai di puncak, sunrise point. Aaahh indah banget, MasyaAllah. Kawahnya terlihat jelas walau ada bagian yang tertutup asap belerang. Beberapa pendaki terlihat turun ke kawah.

Biru, hijau, dingin, memanjakan mataku.

aaa aku sampai sini

Gunung Raung

Aku dan Amel solat di ketinggian 2.386 mdpl dengan angin kencang dan tanah yang tidak rata.


ada bukit juga



Lanjut ke spot Hutan Mati yang dipenuhi tanaman cantigi yang cantik. Kabarnya Hutan Mati ini adalah bekas area hutan cemara yang terbakar akibat kebakaran dan gas beracun dari aktivitas vulkanik ijen yang terakumulasi. Di sisi lain kawahnya, ada bukit yang tinggi (lupa nggak nanya namanya).

cantigi yang cantik

di Hutan Mati

Setelah puas mengabadikan momen, kami kembali turun sekitar pukul 7.30, kembali melalui jalan yang sebelumnya masih terlihat gelap. Melihat beberapa penambang mengumpulkan belerang. Aku tidak terlalu mencium bau belerang, hanya sekilas saja.







Dari awal yang tidak berekspektasi tinggi untuk melihat Blue Fire, malah diberi nikmat cuaca yang cerah untuk melihat indahnya Ijen.

1 jam 15 menit total waktu untuk turun dari puncak ke basecamp dan dilanjutkan makan indomie karena sudah lapar wkwk.

byee Ijen!

Kembali ke penginapan, karena capek semua, kami tertidur di perjalanan, aku lagi-lagi susah tidur pulas. Sampai di penginapan pukul 10.30 dan berpamitan dengan tripnya. Thanks exoticijen!

Makan Seafood di Ikan Bakar Pondok Pelangi

Saatnya istirahat lagi di kamar. Jam 13.00 akan datang motor yang kami sewa untuk jalan-jalan mencari makan atau ke Pantai.

Siang sampai sore hujan turun yang membuat kami kebingungan apakah jadi keluar untuk motoran atau tidak, mengingat Amel malamnya akan langsung pulang ke Solo.

Syukurnya, pukul 16.40an hujan berhenti. Kami berencana makan seafood di Ikan Bakar Pondok Pelangi. Kalau menurut maps, arah perjalanannya tidak melewati Kawasan Pantai, tapi karena beloknya terlewati jadi melewati dermaga dan bisa melihat laut.


Saat kami datang untuk makan, belum banyak pengunjung yang datang, sehingga makanan tidak terlalu lama disajikan. Saat sudah ramai, kami menambah pesanan minum yang ternyata lama sekali disajikan. Tak apalah. Lagian, rasanya enak, harganya pas. Setelah makan, beli oleh-oleh di Osing Deles. Aku beli Bagiak, Keripik Tempong, dan Keripik Cumi. Bingung beli apa lagi soalnya kebanyakan cuma keripik-keripik atau kacang-kacang yang di Jogja juga banyak yang jual.

beli oleh-oleh

Pulang bentar ke homestay lanjut lagi mengantar Amel ke stasiun naik motor. 

Day 3 

Pantai Ancol Plengsengan dan Sego Cawuk Ibu Sri

Kali ini tinggal aku dan Lintang yang belum pulang. Agenda pagi jam 5 adalah berburu sunrise di Pantai Ancol Plengsengan, jaraknya kurang lebih 5 km. Kami duduk-duduk menikmati matahari terbit, kapal dan perahu yang masih berlayar, dan bermain air.

sunrise of java

cerah :)

gunung dan pantai

Karena kita lapar, Lintang merekomendasikan sarapan di Sego Cawuk Ibu Sri. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai atau penginapan. Sistem antreannya pakai nomor, keren kan wkwk. Soalnya ramai dikunjungi wisatawan. Tempatnya kecil, kalau mau makan di sana tempatnya terbatas, jadi kami membungkusnya saja. 1 porsi seharga 10 ribu dan sate usus 2 ribu rupiah.

pagi-pagi dah antre

live action penjual ngulek sambel

Rasanya enak banget, ada pedes asem dari sambelnya, dan gurih dari santan dan parutan kelapa. Porsinya pas buat sarapan. Sejauh ini, makanan ini menjadi favoritku wkwkwk.

kuah pindang, cocor tahu, daun semanggi, pepes tuna, telur pindang, gecok teri,
kuah kelapa, pecel, sambel sereh, kerupuk, sate usus

Jam 11 saatnya kami harus meninggalkan Banyuwangi. Kembali naik Wijaya Kusuma tujuan Yogyakarta dengan waktu yang sama, 11 jam, fyi aku dapet harga tiket Rp645.000 karena kelas ekonominya udah habis wkwk.

Masih belum puas untuk eksplor di Banyuwangi dan sekitarnya. Tahun depan kalau ada kesempatan buat MAIN ke Banyuwangi lagi, kayanya jadi pertimbangan deh (pakai private trip juga). Sama suamiku bisa kali, #eh. Aamiin! Belajar renang juga biar bisa snorkeling wkwk.

Nice and fun trip, Alhamdulillah! Thank you Banyuwangi!

(Draft dari 9 bulan yang lalu yang belum sempet diupload)

24-25 Mei 2024 para wanita (Aku, Amel, dan Lintang) berencana camping di Gunung Andong, Magelang. Mumpung long weekend, mau camping cantik sambil menikmati pemandangan. Niat itu sudah dimulai saat Amel memberanikan diri membeli sebuah tenda.

Karena satu dan lain hal, kami mengajak teman-teman cowok untuk ikut ke gunung, dan mereka bersedia walaupun agak bingung untuk cari transport ke Magelang dari Tasikmalaya. Huru-hara kami dimulai dari:

Aku, Amel, dan Lintang tentunya pulang ke rumah masing-masing di tanggal 23 Mei (23-26 Mei adalah tanggal merah). Tanggal 24 Mei baru berangkat dari Jogja ke Magelang (Aku dan Lintang).

Mas Nur, karena hari sebelumnya cuti dan pulang ke rumahnya di Sidoarjo, jadi dia harus ke Jogja dulu di tanggal 24 Mei.

Faizi, Ilham, dan Lucky berangkat dari Tasikmalaya ke Kutoarjo, lalu pindah naik Prameks tujuan Jogja. Tiba di Jogja tanggal 24 Mei.

Rencana awal adalah kami motoran ke Magelang.

Lalu aku menawarkan untuk naik mobilku saja menuju Magelang, tentunya Faizi yang menyetir. Dia sudah menyanggupi. Tapi karena kapasitas maksimal hanya 5 orang, 2 orang lainnya tetap harus naik motor. Awalnya iya iya aja. Tiba-tiba karena ada yang pengen motoran buat merekam video pas di jalan, jadi nggak ada yang nyetir mobil, dong wkwk (oh, jangan tanya aku bisa atau nggak wkwk). Ya udah deh, balik ke rencana awal untuk motoran aja. Amel sempat memberikan kontak sewa motor di Jogja.

Cowok-cowok setelah tiba di stasiun Jogja, aku undang mereka untuk ke rumahku dulu untuk sarapan. Lintang juga ke rumahku dulu menjemputku naik motornya.

Sepertinya rencana awal mulai goyah saat rombongan Faizi tidak mendapat tiket Prameks ke Jogja. Jadwal prameks selanjutnya jam 9 pagi, jelas kesiangan. Oke, mereka langsung ke Magelang aja daripada harus ke Jogja dulu, walaupun lebih jauh. Ternyata mereka masih dapat tiket KA Progo yang sampai di Jogja masih pagi (jam 7 pagi). Oke, let’s go!

Sebenarnya, dari malamnya di Jogja dan Magelang turun hujan, sampai pagi juga masih gerimis. Lainnya pun mengiyakan. Aku tiba-tiba bilang, gimana kalau sewa mobil aja yang muat bertujuh wkwkwk. Kebetulan, cowok-cowok itu tidak mendapatkan sewaan motor di stasiun karena sudah habis. Kontak yang pernah diberikan Amel juga ternyata dianggurin, jelas habis. Usulku untuk sewa mobil juga disetujui dengan opsi, kalau tidak dapat mobil, tetap akan cari motor. Lalu aku dan ayahku pontang-panting cari sewaan mobil yang mendadak. Sebenarnya aku dapat 1 mobil xenia, tapi harus ninggal motor, KTP, dan SIM, ah nggak dulu deh. Hujan mulai berhenti. Gapapa deh kalau jadinya motoran.

Akhirnya, Mas Nur dapat pinjeman motor Astrea dari saudaranya di Jogja. Aku ada 1 motor yang tidak terpakai untuk dipakai yang lain.

Udah tau mau naik motor tapi pada ngga bawa helm! 1 helm dariku dan Lintang kami pinjamkan (helm tanpa kaca) untuk mereka. Masih kurang 1 lagi, akhirnya mereka beli di dekat rumahku. Setelah sarapan dan packing ulang, kami berangkat menuju Magelang ke rumah Amel. Aku dan Lintang, Lucky dan Faizi, Mas Nur dan Ilham berangkat beriringan kurang lebih jam 11 siang setelah berpamitan pada Ibuku.

Selama di jalan, kami khawatir kalau motor Mas Nur tidak kuat naik tanjakan. Tapi pukul 13.18, kami sudah tiba di rumah Amel dengan selamat. Lalu packing lagi karena ada tenda dan perlengkapan lain yang belum dibagi. Kami dijamu makan siang dan camilan (makasih Amel). Di rumah Amel juga sempat hujan. Dari situ kami terlihat ingin menyerah saja.

Setelah solat asar, jam 15.00 an hujan reda dan kami siap melanjutkan ke Basecamp Gunung Andong. Kali ini aku dengan Lucky, Lintang dengan Ilham, Faizi dengan Amel, Mas Nur sendiri agar saat menanjak, motornya kuat. 

foto di depan rumah Amel sebelum berangkat ke basecamp

Jalanan memang banyak tanjakan, aku berulang kali menengok ke belakang untuk melihat rombongan lain dengan aman. 30 menit kemudian setelah melewati jalan yang sangat menanjak, kami tidak juga melihat motor Mas Nur. Semua berhenti dan bingung, mana Mas Nur? Benar, motornya macet nggak kuat nanjak. Amel dan Faizi berbalik lagi menyusul di bawah. Kami menunggu cukup lama dan akhirnya turun menyusul mereka.

Ada 1 atau 2 bengkel di sepanjang jalan itu. 1 bengkel yang mereka datangi kebetulan tidak ada orangnya. Bengkel kedua yang untungnya berdekatan, ada orangnya. Kami menunggu lagi di sana. Amel berinisiatif untuk meminjam motor saudaranya untuk Mas Nur selama motornya di service. Lumayan lama dari Amel dan Lintang ambil motor sampai tiba lagi di bengkel. Saat motor Mas Nur sudah hidup lagi, dia menyusul Amel dan Lintang sekalian menaruh motornya di rumah Amel.

belum mulai udah strez nungguin motor bener

Yes, akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi jam 17.00 lebih. Amel minta motoran sendiri karena shock breakernya rusak. Aku dan Mas Nur naik motor milik saudara Amel. Lintang dengan Ilham. Faizi dengan Lucky. Sebenarnya motor revoku yang dipakai Faizi harus pinter-pinter pakainya karena harus mainin gigi motor.

jalan berkabut

Sepanjang jalan, kabut mulai memenuhi jalan. Jarak pandang yang dekat karena kabut membuat kami harus berhati-hati ditambah, tidak ada lampu penerangan di jalan dengan jalanan meliuk-liuk. Aku yang sambil mengarahkan jalan pakai maps juga harus menengok teman-teman di belakang, memastikan mereka tetap mengikuti kami. Berulang kali kami melihat penduduk sekitar naik motor dengan santainya tanpa penerangan yang jelas dan memakai baju yang tipis, padahal suhu saat itu dingin sekali. Tidak hanya itu, serangan hewan “samber mata” juga membuat kami waspada. Kasihan yang pakai helmku dan Lintang karena tidak ada kacanya, ah tau deh wkwk. Setelah ketemu jalan raya, mulai sedikit santai dan akhirnya kami sampai di Basecamp Taruna Jaya Giri Sawit pukul 18.15.

sampai basecamp

Istirahat bentar, bayar SIMAKSI, makan malam, solat, dll. Pukul 20.00 akhirnya kami memulai pendakian.

baru aja mulai

Intronya udah sebanyak ini T_T.

Basecamp ke pos 1

Saat itu sepertinya hanya rombonganku yang berangkat naik. Kanan kiri kami dipenuhi ladang sayuran penduduk sampai gapura pendakian. Namun baru jalan 10 menit, hujan deras mengguyur desa. Kami menepi di sebuah warung kecil dan membeli jas hujan tambahan. 20-30 menitan kami menunggu reda. Walaupun tidak sepenuhnya hujan berhenti, kami tetap lanjut berjalan pakai jas hujan.

nunggu hujan reda sebelum masuk gapura Gn. Andong

Sampai pos penjagaan setelah masuk gapura, petugasnya minta tiket masuk, padahal sebelumnya tidak diarahkan apapun untuk menunjukkan tiket. Protes kami tidak membuat petugas menjadi luluh. Mau tidak mau kami harus mencarinya yang saat itu disimpan Mas Nur di bagian mana udah lupa. Jadi harus bongkar tas lagi deh, ya ampun. Dan akhirnya ketemu. Lanjuut. Jalan yang kami lalui berupa anak-anak tangga ke atas lalu mulai tanah padat dan hutan pinus.

Hujan turun lagiii. Kami menepi lagi di gubuk kecil. Oh iya kami pilih lewat jalur lama yang lebih curam tapi lebih cepat sampai. Terus lanjut lagi sampai pos 1 Watu Pocong. Ih serem. Di pos itu ada batu besar banget. Lumayan buat kami istirahat. Sepertinya kami tidak terlalu mempedulikan Watu Pocong. Yang penting bisa cepet istirahat.

Pos 1 ke pos 2

Tidak jauh dari pos 1, kami kembali menemukan gubuk untuk tempat beristirahat. Lanjut ke pos 3. Kami juga bertemu rombongan lain yang berangkat dari jalur baru.

Pos 2 ke pos 3, dan camping ground

Jalur mulai berkelok-kelok, berbatu, dan menanjak. Banyak hutan pinus dan melewati sumber air untuk mengisi keperluan kami. Karena gelap malam, kami tidak bisa melihat pemandangan di sepanjang jalur. Setelah berjalan lagi, ada pertigaan jalan yang kalau ke kiri ke arah makam, ke kanan ke camping ground (Puncak Jiwa). Kami memilih ke kanan.

Camping ground

Tengah malam, kami sampai dan mencari area untuk mendirikan 2 tenda. Brrrr dingin banget. Sat set sat set biar kami segera istirahat. Setelah jadi, kami masuk dan ganti baju dulu. Sleeping bag punyaku rupanya basah sebagian karena air hujan tetap masuk ke tas. Menyesal tidak membungkusnya dengan trash bag. Biarlah, sekarang saatnya tidur.

Tiba subuh aku terbangun soalnya pengen buang air. Aku lupa kalau di sana ada air tapi malah tayamum. Yang lain juga pengen ke toilet jadi jalan bareng-bareng. Toiletnya yang ke arah makam. Lumayan jauh. Ada air per botol 1,5 liter dihargai Rp5.000. Dalam toilet hanya ada wc dan gayung. Setelah buang air dan wudu seadanya aku balik lagi ke tenda dan solat lagi walau matahari udah muncul sebagian.

melihat Gunung Merbabu

tenda kami

Lanjut foto-foto, ada yang bikin kopi, ada yang masih tidur, jemur jas hujan, dll.

Saatnya sarapan. Kami masak soto dengan bumbu instan dan masak nasi. Sayangnya nasinya gagal, masih agak keras hahaha. Sotonya yaah seadanya, agak asin sih. Pelengkapnya ada soun, kobis, tauge, telur dadar, nugget, tempe goreng, dan sambal kecap. Ada buah juga dari Amel. Sebenarnya Mas Nur beli buah potong juga, tapi sampai sana udah bau hahaha.

masak-masak

Merbabu mulai tertutup awan

Setelah sarapan, beres-beres dan bersiap ke Puncak Jiwa dan Puncak Alap-Alap. Jalan berupa tanah setapak menaiki bukit, menuruni bukit, dan menaiki bukit lagi. Puncak pertama, puncak Jiwa, kami ingin foto-foto juga tapi masih banyak orang, jadi lanjut ke puncak alap-alap. Jalurnya bernama jembatan setan, karena kanan kiri jurang dan hanya untuk satu orang (tidak bisa berjajar). Sampai puncak alap-alap, kami foto-foto, istirahat, makan cemilan, beli minuman.

jembatan setan

mengaduk teh panas

bengong kenapa bisa sampe sini

Puncak Alap-Alap


foto bareng dulu

Pukul 10.30 kami kembali ke area camping. Kabut perlahan memenuhi bukit dan rintik hujan mulai turun. Sampai di puncak jiwa yang awalnya ingin berfoto, tidak jadi kami wujudkan karena banyak antrean, dan keburu hujan deras.

mulai berkabut

foto benderanya aja


Kami terjebak di tenda karena hujan deras sekali. Setelah diingat lagi sekarang, kami tidak makan siang haha. Aku merasa mulas jadi nggak nafsu makan.

terjebak di dalam tenda karena hujan deras

Pukul 13.30 mau tidak mau kami harus membongkar tenda untuk kembali ke basecamp. Sambil hujan-hujan pakai jas hujan, ada yang nggak pakai juga sih, kami membongkar tenda dan packing lagi.

Berbeda dengan malamnya yang tidak terlihat apa-apa, kami kembali melewati jalur yang sudah kami lalui. Oh, ini toh.

Hai!

ini dia pos watu pocong

ada toiletnya kalau nggak lupa

mulai keluar gapura

ini dia anak-anak tangganya

keluar area hutan

gapura

yaay, sampai basecamp!

Sampai basecamp jam 18.00. Lalu solat, mandi, pesen makan, dan mikir cara pulangnya. Cowok-cowok menyewa penginapan di Jogja. Aku menawarkan kalau setelah sampai di rumahku, mereka akan di antar ayahku ke penginapan, kecuali Mas Nur karena masih harus mengembalikan motor ke rumah saudaranya. Setelah mengonfirmasi tempat penginapannya, aku kirim ke ayahku supaya tahu tempatnya.

Pukul 20.45 kami menuju rumah Amel sekalian mengembalikan persewaan di tempatnya. 22.50 lanjut lagi ke rumahku setelah berpamitan dengan Amel. Hampir jam 00.00 kami tiba di rumahku. Lucky, Faizi, Ilham langsung diantar ayahku dengan Mas Nur mengikutinya dari belakang. Sementara itu, Lintang menginap di rumahku karena sudah malam dan terlalu berbahaya kalau langsung pulang ke Bantul, rumahnya.

Saat mau istirahat, aku tanya yang lain apa mereka sudah tiba di penginapan? Jeng jengg... mereka salah penginapan, pantesan nggak bisa check in. Ternyata nama penginapan di aplikasi dengan maps lumayan mirip. Mereka juga tidak konfirmasi satu sama lain (pemesannya adalah Mas Nur). Permasalahan ini masih berlanjut ternyata. Ayahku langsung balik setelah mengantar mereka. Aku dan Lintang mengomel sendiri. Mereka terlantar di pinggir jalan. Capek banget jadi mereka hahaha. Mereka akhirnya nunggu di stasiun sekalian karena mau naik prameks ke Kutoarjo. Setelah subuh, Lintang berpamitan pulang dan aku mengantarnya sampai jalan raya. Teman-teman yang lain juga sudah mengabari kalau sudah naik prameks. Alhamdulillah.

Fun Camp? Hahahaha.

Perjalanan dari basecamp ke puncaknya sih sebentar, tapi di luar itu ¾ bagian ada ceritanya sendiri. Waktu berjalan begitu cepat sampai aku harus mencerna apa yang sudah aku lalui saat itu.

Terima kasih, teman-teman dan Andong! All praise due to Allah.

Aku naik gunung lagi huhuhu. Apakah selanjutnya ada kesempatan naik gunung lagi? Udah beli tas carrier, nih. Ke mana lagi yaa.

Evaluasi:

Please, beli celana yang anget. Kemarin cuma bawa 1 celana panjang dan 1 jilbab. Sama bungkus sleeping bag pakai trash bag biar nggak basah.


Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

galeri.meraki

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates